November 28, 2020

Inspektor Dadakan

Ketapang, 20 Mei 2018

Di awal tahun 2018 kami memulai 8 (delapan) paket kontrak sekaligus yang terdiri dari 3 (tiga) paket pembangunan GI 150kV baru dan 5 (lima) paket pembangunan SUTT 150kV jalur baru. Tim teknik di PLN UPP yang akan bertugas sebagai pengawas pekerjaan hanya ada 4 (empat) orang, sedangkan konsultan pengawas belum tersedia. Bisa dibayangkan, secara teknis tentu akan sulit untuk mengawasi keseluruhan pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor, sedangkan pekerjaan tidak boleh tertunda sedikit pun.

Keputusan instan pun  harus cepat diambil, kumpulkan semua tenaga alih daya yang ada di kantor, baik itu tenaga pengemudi, tenaga pengamanan, dan tenaga administrasi. Semua tenaga alih daya wajib ikut “kuliah kejar paket” pengawasan proyek yang diberikan oleh pegawai tim teknik. Selama beberapa hari mereka diberikan pembekalan tentang hal-hal teknis pengawasan yang diantaranya bagaimana cara mengawasi pekerjaan pondasi dan hal non teknis lainnya yang sering terjadi saat pekerjaan di lapangan. Selanjutnya tenaga alih daya yang akan ditugaskan untuk membantu pengawasan ini akan disebut sebagai “inspektor dadakan”

Setelah “kuliah kejar paket” selesai, seluruh inspektor dadakan ini diberikan evaluasi, apakah sudah siap terjun ke lapangan. Inspektor dadakan ini tugasnya hanya mencatat apapun yang terjadi saat pekerjaan di lapangan, tidak boleh memberikan judgement apapun. Apabila perlu judgement, harus dikomunikasikan ke pegawai tim teknik yang menjadi koordinator untuk setiap paket pekerjaan.

Driver saya, Taufik namanya, selama ini bertugas mengantar saya kemanapun ditugaskan. Dia pun ikut menjadi inspektor dadakan. Saya bilang ke dia, “kamu ikut mencatat apapun pekerjaan di lapangan, sambil belajar, apapun itu sedikitpun kamu akan mendapat ilmu baru, siapa tau hidup kamu bisa lebih berkembang ke depannya”. Semangat sekali dia kalau ditugaskan ke lapangan, pakai pakaian serupa pengawas sebenarnya, full safety equipment. Semua dicatatnya, berapa volume semen, pasir, dan besi. Kalau ada sesuatu yang terindikasi tidak sesuai dia langsung lapor ke pegawai koordinator untuk diberikan arahan.

Mereka memang bukan pengawas, hanya membantu mencatat dan supaya pelaksana pekerjaan berasa ada yang mengawasi. Kebijakan ini harus dilakukan, daripada tidak ada sama sekali perwakilan pengawas saat pekerjaan. Hasilnya positif, pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa ada kendala apapun. Ya memang tidak selamanya, karena dalam waktu 3 (tiga) bulan kemudian kami sudah mendapatkan konsultan pengawas pekerjaan yang sebenarnya.

Berawal dari inspektor dadakan, mudah-mudahan ke depannya mereka bisa lebih berkembang dari hanya sekedar tenaga alih daya non-teknik.

Rizki Aftarianto

A 33 years old engineer from Jakarta. Currently working for electricity State-owned Enterprises based in Jakarta.

View all posts by Rizki Aftarianto →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.